19 Juni 2008

WASPADAI PERLAMBATAN KINERJA PERBANKAN 2008

LAJU kinerja perbankan Tanah Air akan menghadapi rintangan yang berat sepanjang 2008. Hal tersebut dipicu kondisi perekonomian makro yang berpotensi memburuk sejak pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), akhir Mei lalu. Dengan laju inflasi yang diperkirakan bisa mencapai dua digit, bagi perbankan, sektor konsumsi adalah yang pertama terpukul, padahal selama ini kredit konsumsi sebagai penyumbang keuntungsn perbankan. selain ancaman inflasi, kinerja perbankan juga berpotensi terganggu karena BI diperkirakan akan mengeluarkan kebijakan moneter menyusul inflasi yang semakin meninggi. "BI akan keluarkan kebijakan moneter lebih besar.
Implikasi akhir dari kondisi tersebut adalah menurunnya laba perbankan. Berdasarkan data Bank Indonesia, laba bersih yang dihimpun perbankan nasional per April 2008 mencapai Rp 11,86 triliun. Nilai itu turun 4,65 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp 12,44 triliun. sebagai catatan pada tahun 2006 dan 2007, perbankan mencatat pertumbuhan laba yang signifikan. Bahkan, pada tahun 2007 laba bersih perbankan mencatat rekor sebesar Rp 35,02 triliun.
Menurut beberapa pengamat ada beberapa faktor penyebab menurunnya laba perbankan tahun ini (kompas 18 Juni 2008) :
  1. Kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) mulai meningkat. Pada bulan April 2008, rasio NPL gros mencapai 4,39 persen, naik dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 4,33 persen. Kenaikan NPL membuat perbankan harus menyisihkan pencadangan yang lebih besar sehingga potensi laba pun menurun. Lonjakan NPL terjadi karena kesulitan yang dihadapi pengusaha akibat kenaikan ongkos produksi dan memburuknya perekonomian.
  2. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menurun. NIM menipis karena suku bunga dana otomatis naik mengikuti suku bunga acuan (BI Rate), tetapi suku bunga kredit tedi tengah ketidakpastian ekonomi yang dipicu kenaikan harga minyak dan pangan dunia, banyak pelaku usaha mengambil sikap menunggu dan menyetop sementara ekspansinya. Akibatnya, permintaan kredit pun turuntap ditahan agar tidak memberatkan nasabah
  3. Di tengah ketidakpastian ekonomi yang dipicu kenaikan harga minyak dan pangan dunia, banyak pelaku usaha mengambil sikap menunggu dan menyetop sementara ekspansinya. Akibatnya, permintaan kredit pun turun

Mencermati kondisi tersebut sebagian perbankan mulai melakukan revisi terhadap target laba tahun 2008, seperti yang diutarakan Ketua Umum Perhimpunan Bank Umum Nasional Sigit Pramono, Rabu (18/6) di Jakarta,"Revisi dilakukan untuk mengantisipasi situasi ekonomi yang kian memburuk dan untuk mengurangi dampak tekanan NPL". Sementara itu Ekonom BNI, Ryan Kiryanto, memperkirakan, bank-bank yang kemungkinan besar merevisi target adalah bank-bank yang banyak bermain di sektor korporasi. Adapun bank yang kreditnya banyak disalurkan ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak akan terlalu terpengaruh

Tidak ada komentar: