27 Juni 2008

ekonomi & keuangan

·

  • Pengamat Pasar uang, Edwin Sinaga mengatakan, rupiah kemungkinan sulit untuk bisa mencapai angka Rp 9.000 per dolar AS, karena memerlukan dukungan yang sangat kuat untuk bisa mencapai ke arah itu. "Kenaikan rupiah yang terjadi akhir-akhir ini berkat dukungan dari investor asing yang membeli Surat Utang Negara (SUN), sehingga mampu mencapai posisi Rp9.220 per dolar AS," kata Edwin Sinaga di Jakarta, Kamis, seperti dilansir Antara. Seperti diketahui Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antar bank Jakarta, Rabu sore berhasil menembus angka Rp 9.250 per dolar AS, setelah beberapa lama berkutet pada kisaran antara Rp 9.275 sampai Rp 9.300 per dolar AS. · Kondisi apresiasi rupiah ini juga didukung oleh harga minyak dunia yang tidak begitu bergejolak.

  • Namun, ke depan pergerakan mata uang rupiah perlu tetap diwaspadai utamanya menjelang Pemilu 2009. Selain itu, kondisi inflasi pasca kenaikan BBM bulan Mei lalu akan terlihat dampaknya pada inflasi bulan Juni dan pada bulan Juli-Agustus, ancaman inflasi masih ada karena faktor tahun ajaran baru.
  • Ekspansi kredit perbankan triwulan 1-2008 perlu mendapat perhatian apakah kredit perbankan tersebut disalurkan kepada kredit produktif (modal kerja dan usaha) atau kredit konsumsi? Sebab penyaluran kredit perbankan terdapat kenaikan mencapai 33 persen.
  • Harga minyak di New York menyentuh rekor baru US$ 139,64 per barel bahkan sempat di atas US$ 140,56 per barel yang membuat pelaku pasar cemas. Hal ini berakibat indeks bursa regional yang melemah diikuti pula melemahnya indeks di bursa domestik (IHSG).
  • secara umum, Perekonomian nasional masih menghadapi ancaman eksternal berupa gejolak harga minyak dunia dan efek domino bursa regional terhadap bursa domestik. Dari sisi internal, pemerintah perlu mengelola pergerakan nilai tukar rupiah dan inflasi pada kisaran yang aman sehingga dapat mendorong pelaku usaha untuk berinvestasi pada sektor-sektor produktif. Disisi lain, penyaluran kredit tetap harus menjadi perhatian pemerintah agar kredit yang disalurkan tepat sasaran dan tepat guna serta meningkatkan produktivitas usaha. Pemerintah diminta untuk menyusun pola penyaluran dana bergulir UKM yang masih tertahan di Departemen Keuangan dan segera menyalurkannya agar pembangkitan UKM tidak terhambat.

Tidak ada komentar: