06 Juli 2008

Mencermati situasi global pada perekonomian nasional

Tidak dapat dipungkiri kondisi perekonomian global mempunyai pengaruh yang signifikan bagi perekonomian domestik. Akhir bulan Juni lalu, harga minyak dunia sudah menyentuh batas psikologis yang diramalkan banyak pihak yaitu mencapai US$ 146 per barel. Kondisi ini salah satunya merupakan dampak yang diakibatkan oleh pengumuman resmi Pemeritah AS mengenai cadangan minyak AS lebih kecil daripada yang diharapkan.

Perkembangan yang demikian mengkhawatirkan mendorong Bank Sentral Uni Eropa menaikkan suku bunga 25 basis poin dari 4% menjadi 4,24% untuk mencegah terjadinya inflasi lebih lanjut (4 Juli 2008). Tidak hanya itu, sebelumnya Bank Indonesia juga menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin dari 8,5% menjadi 8,75% untuk meredam tingginya inflasi yang merupakan kontribusi kenaikan harga komoditi di tingkat global dan dampak kenaikan BBM di dalam negeri.

Gubernur BI Boediono menyatakan keputusan itu diambil atas pertimbangan resiko terhadap stabilitas perekonomian, sistem keuangan Indonesia dan prospek pertumbuhan ekonomi tahun 2008-2009. BI melihat adanya tekanan dari sisi permintaan seiring dengan meningkatnya pertumbuhan kredit dan uang beredar.

Perkembangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir patut dicermati mengingat dampak global yang dapat dipastikan akan membawa pengaruh kepada perekonomian domestik. Ambil saja kenaikan suku bunga referensi di Uni Eropa, kemungkinan besar akan mendorong apresiasi nilai tukar Euro terhadap dollar Amerika. Artinya dollar kembali mengalami pelemahan nilai tukar terhadap beberapa mata uang dunia. Padahal, melemahnya dollar Amerika dapat dipastikan akan menyebabkan harga minyak mengalami kenaikan yang lebih tinggi lagi. Situasi ini tentu akan menimbulkan efek berantai yang lebih luas yang dampaknya akan dirasakan di dalam negeri yaitu ekspektasi inflasi menjadi semakin tinggi.

Disini Bank Indonesia diharapkan lebih arif dan berhati-hati dalam merespon inflasi khususnya ketika BI menggunakan BI rate sebagai instrumen untuk meredam inflasi. Sebab, kekhawatiran akan kenaikan BI rate untuk meredam inflasi dapat mengakibatkan perlambatan ekonomi domestik khususnya sektor UMKM yang semakin sulit mendapatkan akses terhadap kredit yang murah. Tidak hanya itu saja, beberapa pengamat memperkirakan tidak hanya sektor riil yang berpotensi mandeg, sektor keuangan diantaranya bank syariah perkembangannya akan terhambat, seperti pernah terjadi pada tahun 2006.

Tidak ada komentar: