Badan Pusat Statistik pada Selasa (1/7) mengumumkan, jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2008 turun 2,21 juta orang dibandingkan kondisi Maret 2007. Dengan demikian, jumlah penduduk miskin saat ini sebanyak 34,96 juta orang atau turun dibandingkan sebelumnya sebanyak 37,17 juta orang.
Deputi Kepala BPS Bidang Statistik Sosial Arizal Ahnaf menjelaskan, penurunan angka kemiskinan terutama terjadi di pedesaan, antara lain karena kestabilan harga beras dan kenaikan upah riil petani pada periode Maret 2007-Maret 2008. Penurunan terjadi karena inflasi umum pada Maret 2008 terhadap Maret 2007 relatif stabil, yakni 8,17 persen. Pada periode itu, rata-rata harga beras juga turun 3,01 persen. Sekitar 63 persen penduduk miskin tinggal di desa dan sebagian besar bekerja di sektor pertanian.
Harus diakui bahwa kestabilan harga pangan merupakan instrumen temporer untuk menolong penduduk miskin. Namun demikian hanya menggunakan beras sebagai barometer pengukur angka kemiskinan, juga merupakan penyederhanaan persoalan. Secara teoritis Penduduk dikategorikan miskin jika rata-rata pengeluaran per kapita per bulan berada di bawah garis kemiskinan. Berdasarkan data yang ada pada Maret 2007 ditetapkan senilai Rp 166.697 per kapita per bulan, sementara pada Maret 2006 senilai Rp 151.997 per kapita per bulan. Selain itu, kategori penduduk miskin juga dapat dilihat dari minimum pemenuhan kolari sebesar 2000 kalori perhari.
Terhadap pengumuman yang dibuat oleh BPS tentang penurunan angka kemiskinan, ada beberap hal yang perlu dicermati :
Deputi Kepala BPS Bidang Statistik Sosial Arizal Ahnaf menjelaskan, penurunan angka kemiskinan terutama terjadi di pedesaan, antara lain karena kestabilan harga beras dan kenaikan upah riil petani pada periode Maret 2007-Maret 2008. Penurunan terjadi karena inflasi umum pada Maret 2008 terhadap Maret 2007 relatif stabil, yakni 8,17 persen. Pada periode itu, rata-rata harga beras juga turun 3,01 persen. Sekitar 63 persen penduduk miskin tinggal di desa dan sebagian besar bekerja di sektor pertanian.
Harus diakui bahwa kestabilan harga pangan merupakan instrumen temporer untuk menolong penduduk miskin. Namun demikian hanya menggunakan beras sebagai barometer pengukur angka kemiskinan, juga merupakan penyederhanaan persoalan. Secara teoritis Penduduk dikategorikan miskin jika rata-rata pengeluaran per kapita per bulan berada di bawah garis kemiskinan. Berdasarkan data yang ada pada Maret 2007 ditetapkan senilai Rp 166.697 per kapita per bulan, sementara pada Maret 2006 senilai Rp 151.997 per kapita per bulan. Selain itu, kategori penduduk miskin juga dapat dilihat dari minimum pemenuhan kolari sebesar 2000 kalori perhari.
Terhadap pengumuman yang dibuat oleh BPS tentang penurunan angka kemiskinan, ada beberap hal yang perlu dicermati :
- Perhitungan angka kemiskinan yang dibuat oleh BPS hanya menghitung angka kemiskinan di Pedesaan, bagaimana dengan angka kemiskinan masyarakat kota ?, yang mungkin lebih besar. Oleh karena itu dapat dikatakan penurunan angka kemiskinan masih sangat parsial dan tidak mencerminkan kemiskinan seluruh penduduk Indonesia
- Indikator penurunan angka kemiskinan yang digunakan oleh BPS sangat sederhana karena hanya menggunakan data kestabilan harga beras dan kenaikan upah riil, dan dipastikan kestabilan harga beras sangat temporer sifatnya. Sementara itu kenaikan upah riil petani masih perlu dipertanyakan ditengah tingkat inflasi yang cukup tinggi saat ini.
- Perhitungan angka kemiskinan semestinya menggunakan indikator yang lebih luas dan dapat mencerminkan kualitas hidup masyarakat Indonesia dan bersifat kontinyu sehigga tidak bertentangan dengan realitas di masyarakat. Untuk mewujudkan kondisi tersebut yang terpenting dilakukan pemerintah adalah menciptakan lapangan kerja dan perbaikan infrastruktur, terutama dipedesaan untuk mencegah kemiskinan kian dalam.
- Diharapkan BPS dalam memberikan keterangan tentang angka kemiskinan harus lebih transparan dan lebih konfrehensif , termasuk indikator yang digunakan . sehingga lembaga ini lebih kredibel dan tidak dianggap sebagai komoditas politik.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar